Jumat, 30 September 2011

BERSIH TELAGA JONGE

Telaga Jonge terletak di wilayah Padukuhan Jonge Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Terletak kurang lebih 7Km arah timur kota Wonosari. Telaga Jonge yang luasnya hampir 3 hektar dengan dikelilingi pepohonan sebagai perindang terlihat asri. Telaga Jonge tidak pernah kering sepanjang tahun. Airnya masih dimanfaatkan untuk mandi warga sekitar, jika musim kemarau panjang seperti sekarang ini.

Telaga Jonge menyimpan cerita yang panjang untuk ditelusuri. Berawal dari kisah seorang Kyai bernama Kyai Jonge, yang berhasil selamat dari hantaman ombak laut selatan yang kemudian singgah dibeberapa tempat di Gunungkidul sampai akhirnya singgah di Pacarejo dan meninggal atau moksa di tempat itu yang konon setelah Kyai Jonge moksa maka terbentulah telaga, yang sampai saat ini bernama telaga Jonge.

Upacara Bersih telaga Jonge dilaksanakan sebagai bentuk pelestarian budaya, sebagai upaya untuk mempercantik dan merawat kawasan jonge ; dengan diadakan kerja bakti, selain itu juga sebagai bentuk rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan air telaga jonge yang masih dapat dimanfaatkan warga.

Acara Bersih Telaga Jonge diawali dari tirakatan pada hari Kamis Kliwon malam Jumat Legi di pendopo Telaga Jonge. Ada banyak kepercayaan yang masih berkembang di masyarakat yang kemudian membuat acara tirakatan menjadi ramai, banyak berkembang cerita di Telaga Jonge sebagai tempat ngalap Berkah. Sehingga setiap acara tirakatan bersih telaga Jonge selalu dipenuhi masyarakat dari berbagai penjuru pulau jawa.

Jumat siang tanggal 30 September 2011 sebelum acara hiburan dilaksanakan terlebih dahulu acara kenduri.


Setelah acara kenduri selesai acara dilanjutkan dengan hiburan yang dimeriahkan beberapa kesenian tradisional : reog, doger dan Jathilan. Serta untuk tahun ini juga diadakan Festival layang-layang.

Untuk malam sabtu pahingnya masyarakat sekitar Telaga Jonge masih akan dihibur pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. (Hery_Fozil)

Senin, 05 September 2011

MENIKMATI SEJUKNYA ALAM DAN DERASNYA AIR TERJUN SRI GETUK

Menikmati keindahan WISATA GUNUNGKIDUL sepertinya tak akan cukup waktu 1 bulan. Perjalanan kali ini menyusuri indahnya Desa Wisata Bleberan, Playen, Gunungkidul. Berada di ujung paling barat berbatasan dengan wilayah Kab.Bantul. Padukuhan Menggoran menyimpan sejuta eksotisme dan menjadikan penyanggahan dari cerita orang yang banyak tenarnya Gunungkidul adalah daerah kering dan tandus.

Air Terjun Sri Getuk atau Slempret, sepertinya belum begitu biasa didengar telinga kita. wisata alam yang berada di barat daya kota wonosari b erjarak sekitar 15 Km, dengan Rute Siyono – Pasar Playen – Dengok – Bleberan – Menggoran – Air Terjun. Menuju lokasi wisata yang satu ini kita akan menikmati udara sejuk yang begitu indah. Sebelum sampai ke air terjun kita dapat singgah terlebih dahulu di Goa Rancang Kencono yang konon menurut cerita Goa ini gua ini dulu digunakan untuk menyusun atau merencanakan strategi perang antara laskar Mataram dengan penjajahan Belanda pada tahun 1720-an.
setelah puas menikmati Goa Rancang perjalanan menuju Air Terjun Sri Getuk akan semakin terasa indah, kita akan dimajakan suasana alam dengan terbujur hamparan sawah enghijau ditanami padi dan diiringi merdu gemercik air sungai-sungai kecil. Jauh dari kata Gunungkidul kering dan tandus.
Setelah melewati pematang sawah dengan hijaunya padi sampailah kita didermaga untuk naik perahu menuju Air Terjun Sri Getuk, tarifnya cukup murah per orang Rp.5.000,00 saja.
Perjalanan naik kapal menuju Air Terjun kira-kira mamakan waktu 15-30 menit saja.


Akhirnya andapun bisa menikmati sepuasnya di bawah air terjun bisa sekedar foto-foto atau tubing atau yang lebih ekstrem rappeling dibawah guyuran air terjun, tapi untuk permainan ini anda harus merogoh kocek lebih dalam dan biar murah harus cari teman yang banyak. hehehehehehe…..
Rappeling dibawah air terjun, Ketinggian air terjun kira-kira 20-30 meter



Tubing saja juga boleh

Jarak Air Terjun Sri Getuk Menggoran, Bleberan, Playen dari kota wonosari kira-kira 15 Km arah barat daya. Kami siap membantu anda untuk sampai di Air Terjun Sri Getuk, Nikmati dan Rasakan Sensasinya.

(Cp : Hery Fosil 081804067470)

Rabu, 16 Maret 2011

Film Dedemit Gunungkidul Meresahkan Warga Gunungkidul


Poster Film "Dedemit Gunungkidul" bertuliskan Kisah Nyata sudah sangat meresahkan warga Kabupaten Gunungkidul, film yang tengah dirilis berjudul 'Dedemit Gunungkidul' didemo warga. Puluhan anggota Komunitas Kota Gaplek menggelar demonstrasi atas acara syukuran film tersebut yang dilangsungkan di rumah makan pondok Seafood, Wonosari, Gunungkidul.
Koordinator Komunitas Kota Gaplek, Aminudin Azis dalam orasinya menyatakan, sebuah karya seni seharusnya memuat unsur etika, serta bisa dipertanggungjawabkan dihadapan publik atau orang banyak. Demikian pula film dengan judul 'Dedemit Gunungkidul' hanya sekedar mencari keuntungan materi dan sensasi belaka tanpa memperhitungkan dampaknya ditengah masyarakat.

Film kategori adult / dewasa yang hanya sekedar mengumbar mistik, tahayul, porno dan horror, tambahnya, jauh dari perilaku kehidupan masyarakat Gunungkidul. “Kami prihatin dan menolak keras film yang berjudul 'Dedemit Gunungkidul',” katanya.

Aminudin juga mengajak kepada warga 'Handayani' untuk tidak menyaksikan film tersebut sebagai gerakan moral terhadap kepedulian kita terhadap karya seni yang tidak mendidik dan membohongi masyarakat. “Juga menolak segala bentuk ekploitasi kedaerahan yang hanya akan menguntungkan segelintir orang,” serunya.

Warga Gunungkidul berharap kedepan tidak ada lagi film-film yang mencari sensasi dengan mencantumkan nama daerah untuk mendongkrak popularitas film. Sehingga demo semacam ini menjadi alat iklan gratis.

Dalam dialog dengan pengunjukrasa, produser film KK Dheeraj akan mempertimbangkan masukan pengunjuk rasa untuk mengganti judul film yang dibuatnya tersebut. “Saya meminta maaf apabila judul film 'Dedemit Gunungkidul' dinilai tidak tepat. Secepatnya akan dirapatkan di Jakarta,” kata KK Dheeraj.

Penolakan judul film yang dianggap menghina daerah ini bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, Hantu Goyang Karawang yang dibintangi Dewi Persik dan Julia Perez juga diprotes warga Karawang. Lost In Papua juga diprotes Lembaga Masyarakat Papua (LMA) karena isi ceritanya menggambarkan masyarakat pedalaman Papua kanibal.
(Dari berbagai sumber)

Rabu, 09 Maret 2011

Indahnya Langit Biru

Alam ini menyajikan banyak keindahan, salah satunya adalah langit......
berikut beberapa keindahan langit biru :















Jumat, 03 Desember 2010

GOA RANCANG KENCONO


Gunungkidul terbukti memiliki banyak wisata goa, diantaranya adalah Goa Rancang Kencono. Goa Rancang Kencono merupakan goa purba yang terletak di Padukuhan Menggoran, Bleberan, Playen, Gunungkidul, Yogyakarta. Goa Rancang Kencono, gua ini dulu digunakan untuk menyusun atau merencanakan strategi perang antara laskar Mataram dengan penjajahan Belanda pada tahun 1720-an. Bahkan dari buku mozaik pusaka budaya, tempat ini juga sebagai pertemuan Pangeran Diponegoro dengan Sentot Prawirodirdjo serta petinggi Kerajaan Mataram pada waktu itu.

Oleh Kyai Soreng Pati dan Kyai Putut Linggo Bowo gua tersebut diberi nama Gua Rancang Kencono karena tempat tersebut digunakan untuk merencanakan sebuah kegiatan kabajikan/mulia (emas). Di dalam gua ada sebuah ruangan gelap untuk bersemedi. Untuk
masuk ke ruang tersebut melalui lorong sangat sempit hanya bisa dimasuki satu badan dan harus merunduk/jongkok sepanjang sekitar dua meter.

Yang sering digunakan sebagai tempat para laskar dan prajurit di pelataran (halaman)Goa Rancang Kencono yang tumbuh pohon rindang besar bernama pohon Tlumpi (terminalia edulis). Usia pohon tersebut sekitar 200 tahun. Konon kabarnya di lokasi ini dulu juga sebagai tempat persinggahan para Wali Songo yang juga sebagai tempat penyusunan strategi penyebaran agama Islam waktu itu.

Dengan adanya beberapa lokasi wisata yang memiliki nilai sejarah cukup tinggi serta nuansa goa yang alami dan menarik tersebut pada tanggal 3 Juli 2010 Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dan masyarakat melaunching Desa Beberan sebagai Desa Wisata. Masyarakat berharap pada tahun 2011 yang akan datang lokasi menuju Goa Rancang Kencono dan Air Terjun Sri Gethuk sudah diaspal atau diperbaiki, guna menunjang akses menuju tempat wisata Goa Rancang Kencono dan Air Terjun Sri Getuk/Slempret.


Sumber :
http://azzamudin.wordpress.com/2010/10/17/goa-rancang-bleberan-playen-gunungkidul/
http://www.metrogaya.com/home/jejak-walisongo-di-gua-rancang-kencono
Foto: Komunitas Pecinta Gunungkidul Handayani

Kamis, 04 November 2010

Fotografi Sebuah Sejarah Bagi Dunia




Sejarah fotografi tidak akan lepas dari penemuan kamera dan film. Dengan penemuan film, kita dapat mereproduksi gambar, dan proses pencahayaan film tersebut terjadi di dalam kamera. Menurut sejarah, prinsip kerja kamera telah ditemukan sejak zaman Aristoteles, bahkan mungkin sebelumnya. Aristoteles mengadakan percobaannya dengan merentangkan kulit yang diberi lubang kecil, digelar di atas tanah dan diberi antara untuk menangkap bayangan matahari. Sehingga cahaya dapat menembus dan memantul di atas tanah dan gerhana matahari dapat diamati. Kemudian penemuan kamera obscura ditemukan oleh Leonardo da Vinci, sorang pelukis dan ilmuwan. Kamera obscura berupa sebuah kamar gelap yang diberi lubang kecil di salah satu sisinya, sehingga seberkas cahaya dapat masuk dan membuat bayangan dari benda-benda yang ada di depannya.

Pada mulanya kamera ini tidak begitu diminati, karena cahaya yang masuk amat sedikit, sehingga bayangan yang terbentuk pun samar-samar. Penggunaannya terutama masih untuk menggambar benda-benda yang ada di depan kamera. Penggunaan kamera ini baru populer setelah ditemukannya lensa pada tahun 1550. Dengan lensa pada kamera ini, maka cahaya yang masuk ke kamera dapat diperbanyak, dan gambar dapat dipusatkan, sehingga menggambar menjadi lebih sempurna.

Tahun 1575, kamera portable yang pertama baru dibuat, dan penemuan kamera ini untuk menggambar makin praktis. Baru tahun 1680 lahir kamera refleks pertama, namun penggunaannya masih untuk menggambar, karena bahan baku untuk mengabadikan benda-benda yang berada di depan lensa selain dengan menggambar masih belum ditemukan. Jadi, pada zaman tersebut, kamera masih dipakai untuk mempermudah dalam menggambar. Dimana hasil dari kamera tersebut masih belum dapat direproduksi, karena belum ditemukannya film negatif. Sejarah penemuan film dimulai ketika orang berusaha untuk dapat mengabadikan benda yang berada di depan kamera, sudah mulai berkembang sejak abad ke-19, dengan adanya penemuan penting oleh Joseph Niepce, seorang veteran Perancis. Ia bereksperimen dengan menggunakan Aspal Bitumen Judea. Dengan pencahayaan 8 jam, ia berhasil mengabadikan benda yang berada di depan lensa kameranya menjadi sebuah gambar pada plat yang telah dilapisi bahan kimia tersebut. Namun melalui percobaaan ini masih belum dapat membuat duplikat gambar Percobaan demi percobaan telah dilakukan untuk menemukan bahan pembuat duplikat gambar, tetapi tetap gagal. Sampai akhirnya Sir Henry Talbott menemukan Callotype dari bahan kertas yang gambar-gambarnya berupa gambar negatif dan dapat direproduksi. Tapi penemuan ini kurang diminati, karena hasilnya kurang tajam. Kemudian lahirlah Collodion, bahan baku fotografi yang diperkenalkan oleh Frederick Scott Archer, dengan menggunakan kaca sebagai bahan dasarnya. Proses ini adalah proses basah. Bahan kimia tersebut dilapiskan ke kaca, kemudian langsung dipasang pada kamera obscura, dan gambar yang dihasilkan lebih baik. Cara ini banyak dipakai untuk memotret di seluruh Eropa dan Amerika, sampai ditemukannya bahan gelatin dan ditemukannya bahan kimia yang dapat digunakan untuk proses kering.
Tahun 1895, George Eastman membuat film gulung (roll film) dengan bahan gelatin, yang dipakai untuk memotret (mengabadikan citra alam) sampai sekarang. Penemuan-penemuan tersebut di atas telah mempermudah kita dalam mengabadikan benda-benda yang berada di depan lensa dan mereproduksinya, sehingga para fotografer, baik amatir maupun profesional dapat menghasilkan suatu karya seni tinggi, tanpa perlu terhalang oleh keterbatasan teknologi.

FOTOGRAFI kini berkembang dan mempengaruhi hampir segala aspek kehidupan manusia. Pengaruhnya paling banyak terasa pada perkembangan media massa. Jika pada awal munculnya media massa hanya berisikan tulisan-tulisan, sekarang hampir seluruh media massa khususnya cetak dihiasi oleh foto. Berita tak hanya dapat tersampaikan dari sebuah tulisan, fotopun dapat menyampaikan sebuah berita.

Tak hanya penerapannya, teknologi fotografi juga berkembang pesat. Dalam Bab ini akan dibahas lebih lanjut perkembangan teknologi fotografi dari awal konsep fotografi itu sendiri ditemukan.

Jika melihat peristiwanya, fotografi sendiri sudah ditemukan pada sekitar tahun 1000 M. Dikatakan Al Hazen-lah yang pertama kali menemukan konsep dari fotografi. Pelajar berkebangsaan arab ini menulis bahwa citra dapat dibentuk dari sebuah cahaya yang melewati sebuah lubang kecil. Pada sekitar 400 tahun kemudian, Leonardo Da Vinci menulis fenomena yang sama. Berdasarkan penemuan Da Vinci, Battista Delta Porta mempublikasikan sebuah buku yang membahas tentang Camera Obscura. Istilah ini diambil dari bahasa latin yaitu camera yang berarti kamar dan obscura yang artinya gelap. Melalui karyanya itu ia dianggap sebagai penemu prinsip kerja kamera.

Pada awal abad ke-17 muncul sebuah penemuan menarik. Jika pada awal penemuannya lebih pada konsep fotografi yaitu proyeksi sebuah image atau citra, pada awal abad ke-17 ini ditemukan cara untuk merekam citra tersebut. Angelo Sala, seorang ilmuwan Italia, menemukan bahwa jika serbuk perak nitrat terkena cahaya maka warnanya akan berubah menjadi hitam. Namun masalah yang dihadapi Angelo adalah meskipun dapat merekam gambar dengan menggunakan serbuk itu, gambar yang terekam tidak bertahan lama. Dan beberapa tahun berikutnya Johann Heinrich Schuize dan Thomas Hedgwood juga melakukan percobaan yang sama namun dengan hasil yang kurang memuaskan pula. Bahkan percobaan yang dilakukan oleh Schuize sendiri tidak berhubungan dengan bidang fotografi karena ia merupakan Profesor farmasi dari sebuah universitas di Jerman.

Dan kemudian pada sekitar tahun 1824, Joseph Nieephore Niepee menemukan sesuatu yang kemudian menjadi awal ditemukannya teknologi fotografi modern. Melalui proses heliogravure, Joseph berhasil membuat gambar yang bisa disebut foto. Heliogravure adalah sebuah proses yang mirip dengan lithograf yang menggunakan bahan sejenis aspal sebagai bahan dasarnya. Dan pada tahun 1829, Joseph bekerja sama dengan Louis Jacques Mande Daguerre yang merupakan seorang pelukis. Namun itu tidak bertahan lama karena Joseph meninggal pada tahun 1833. Sebenarnya sebelum bekerja sama dengan Daguerre, Joseph sendiri telah menghasilkan foto pertama yang berjudul View From Window at Gras yang disimpan di University of Texas di Austin, USA.

Namun teknologi yang dikembangan oleh Joseph sendiri belum bisa diterima oleh masyarakat umum karena pelat yang digunakan harus disinari selama beberapa jam. Sepeninggalan Joseph, Daguerre bekerja sendiri selama enam tahun dan berhasil mempublikasikan temuannya ke seluruh dunia. Dengan bantuan seorang ilmuwan Daguerre berhasil menemukan teknologi yang dapat menghasilkan foto-foto permanen yang disebut Daguerretype yang tidak dapat diperbanyak. Teknologi ini sekarang lebih dikenal sebagai teknik cetak positif.

Dan pada 25 januari 1839, hanya beberapa hari setelah Daguerre menemukan teknik cetak positif, William Henry Fox Talbot menemukan teknologi yang sekarang dikenal sebagai contactprint. Teknologi ini memungkinkan sebuah foto untuk diperbanyak. Pada satu tahun kemudian, Talbot menemukan teknologi calotype yang sekarang dikenal dengan teknik cetak negatif.

Pada tahun 1850, seorang ahli kimia Inggris yaitu Robert Bingham memperkenalkan teknologi Wet-Plate Photography. Dan kemudian diikuti dengan pengembangan roll film. Dan pada tahun 1888, George Eastman berhasil mengembangkan teknologi kamera yang dapat dibawa kemana-mana dengan leluasa karena bentuknya lebih kecil. Kamera ini diberi nama KODAK yang merupakan sebuah kamera box kecil dan ringan pertama yang berisikan roll film.

Pada masa Daguerre dan Talbot timbul polemik tentang siapa yang sebenarnya yang lebih dulu menemukan teknologi peletakan plat/kertas pada camera obscura. Namun seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ternyata ada perbedaan signifikan yang terletak pada penemuan keduanya. Daguerre yang hasil penelitiannya disebut Daguerretype lebih mirip pada teknik cetak positif sekarang. Sedangkan penelitian Calotype milik Talbot, lebih pada teknik cetak negative.

Perkembangan teknologi fotografi kemudian merambah ke bidang kesehatan. Pada tahun 1901, Conrad Rontgen berhasil mengembangkan teknologi fotografi sinar X untuk pemotretan tembus pandang. Karena kontribusinya dibidang kesehatan, Rontgen kemudian mendapatkan hadiah nobel bidang kesehatan. Dan peralatan pemotretan itu kemudian dinamai dengan nama belakangnya.

Pengembangan pemanfaatan cahaya buatan untuk kegiatan fotografi seperti yang dikembangkan oleh Rotgen, juga dilakukan oleh Dr. Harold Edgerton. Dibantu oleh Gjon Mili, Ia menemukan lampu yang bisa menyala mati dalam hitungan sepersekian detik. Teknologi ini sekarang dikenal dengan sebutan lampu flash (blits).

Pemanfaatan teknologi inframerah dalam fotografi juga banyak membantu dalam penelitian. Kabut yang semula tidak dapat ditembus cahaya, kini dapat ditembus dengan menggunakan teknologi inframerah. Sehingga pemotretan didaerah yang banyak diselimuti kabut menggunakan teknologi ini.

Dikatakan bahwa perkembangan fotografi semakin pesat, seiring masuknya fotografi dalam dunia jurnalistik cetak. Pada mulanya sebuah foto hanya dapat disalin melalui lukisan tangan. Surat kabar pertama yang memuat gambar adalah The Daily Graphic pada 16 April 1877. Gambar yang dimuat adalah gambar sebuah peristiwa kebakaran.

Dan kemudian foto pengeboran minyak Shantytown karya Henry J. Newton adalah foto pertama yang dimuat oleh media cetak. Foto ini dimuat di surat kabar New York Daily Graphic di Amerika pada 4 Maret 1880.

Era digital bisa dikatakan dimulai pada tahun 1990 pada saat Kodak meluncurkan kamera digital pertama yaitu DSC 100. Sejak itulah kamera digital mulai dikembangkan oleh banyak produsen kamera. Sebenarnya teknologi rekam tanpa film sendiri sudah dimulai oleh perusahaan elektronik Sony pada tahun1981 melalui produknya Sony Mavica. Akan tetapi kamera tersebut masih menggunakan televisi sebagai alat preview sehingga belum bisa dikatakan sebagai kamera digital.

Pada awal perkembangan teknologi fotografi digital, kamera yang dihasilkan belum layak pakai. Ini karena resolusi pada kamera digital tersebut masih dibawah 1 megapiksel. Sedangkan untuk mencetak foto seukuran majalah dibutuhkan resolusi minimal 2 megapiksel. Dan masalah inipun dipecahkan dengan diproduksinya Fuji-Nikon E-2. Kamera hasil kerjasama produsen Fuji dan Nikon ini memiliki resolusi 1,3 megapiksel.

Namun masalah lain muncul. Kamera ini memiliki kekurangan di kapasitas media penyimpanan yang sangat terbatas. Tetapi sekarang masalah ini sudah teratasi. Perkembangan media penyimpanan dan resolusi kamera semakin pesat. Media penyimpanan makin tak terbatas dan resolusi kamera pun semakin besar, dan kemudian membuat perkembangan teknologi kamera digital semakin tak terbatas.

Sebagian besar pengguna kamera telah meninggalkan teknologi film dan beralih ke digital. Ini karena penggunaan kamera digital lebih mudah, murah, instan dan tidak menghabiskan banyak space penyimpanan. Akan tetapi, sebagian juga masih setia dengan teknologi film karena masih senang dengan warna foto yang dihasilkan.

Lantas kapan sebenarnya muncul istilah fotografi? Ternyata istilah itu muncul jauh setelah teknologinya ditemukan yaitu pada tahun 1839. Ini adalah tahun dimana terjadinya polemik antara temuan Daguerre dan Talbot. Seorang ilmuwan Inggris, Sir John Herchell adalah yang mengemukakan istilah ini. Fotografi berasal dari bahasa yunani yaitu photos yang berarti cahaya dan graphos yang berarti menulis/melukis.

FOTO PERTAMA

Foto pertama di dunia dibuat dalam tahun 1826 oleh Joseph Nicephore Niepce dari sebuah jendela di rumah perkebunannya di Peran­cis. Untuk “film” Niepce menggunakan lem­pengan campuran timah yang dipekakan dan ia mendapat gambaran kabur dari puncak­-puncak atap yang digambarkan di atas. Foto ini biasanya diperbaiki supaya jelas teta­pi versi yang seperti inilah wujud sebenarnya.

Sumber-sumber
Artikel “Sejarah Fotografi”, firama.8m.com
Artikel “Sejarah Fotografi, Sejarah Teknologi ” oleh Arbain Rambey (Jum’at, 20 Juni 2003), Kompas Cyber Media
Artikel “Story About Digital Kamera” (Rabu, 21 Maret 2007), http://solihin-photo.blogspot.com
Buku “Foto Jurnalistik” (Cetakan ketiga Agustus 2006), Audy Mirza Alwi.
http://blog.isi-dps.ac.id/budiwijaya/fotografi-sebuah-sejarah-dunia
http://alipangat.multiply.com/journal/item/7/sejarah_fotografi

Rabu, 03 November 2010

GUNUNGKIDUL BERDUKA (BUPATI GUNUNGKIDUL TUTUP USIA)


PRAY FOR GUNUNGKIDUL................

Gunungkidul Berduka : انّا للہ و انّا الیه راجعونI telah berpulang ke rahmat Allah SWT beliau Prof.Dr.Ir Sumpeno Putro, MSc (Bupati GUNUNGKIDUL HANDAYANI) malam ini sekitar jam 20.30 di RS Medistra Jakarta (Terkena Serangan Jantung setelah jatuh dr tangga pesawat). Semoga segala amal ibadah beliau diterima disisiNya dan keluarga yang ditinggal diberikan ketabahan. Amin