Senin, 04 Februari 2013

Daftar Pantai-Pantai Di Gunungkidul

Yang suka hunting pantai berikut daftar pantai-pantai di Gunungkidul yang sudah saya update.

KONSULTASI OUTBOUND dan PIKNIK DI JOGJA dan Sekitarnya : 081804067470 / 085602108464

PANTAI-PANTAI DI GUNUNGKIDUL

1. Watugupit : Giricahyo , Purwosari
2. Klampok : Girijati, Purwosari
3. Parangedong : Girijati, Purwosari
4. Bekah : Giripurwo, Purwosari
5. Karangtelu : Girikarto, Panggang
6. Kesirat : Girikarto, Panggang
pantai di Gunungkidul
Pantai Kesirat
 7. Wohkudu : Girikarto, Panggang
Pantai Wohkudu

8. Gesing : Girikarto, Panggang
9. Grigak : Giriwungu, Panggang
10. Nampu : Giriwungu, Panggang
11. Ngunggah : Giriwungu, Panggang
Gesing

12. Langkap : Karambilsawit, Saptosari
13. Ngedan :  Karambilsawit, Saptosari
14. Pringjono : Karambilsawit, Saptosari
15. Nguyahan : Kanigoro, Saptosari
3DAFTAR PANTAI DI GUNUNGKIDUL
Nguyahan

Rabu, 07 November 2012

Daun Dadap Srep Mitos atau Fakta



Rasa penasaran saya terhadap daun "dadap srep" semakin menggila. Pasalnya setiap anak saya mriang atau panas, selalu simbok saya segera "mbingungi" untuk mencarikan daun dadap srep. Antara percaya dan tidak percaya masih sering hinggap dalam benak saya.Apa dibalik kehebatan daun dadap srep?

Nah pagi ini (08/11/2012) kebetulan waktunya longgar, kupergunakan untuk mencari info dibalik kehebatan daun dadap srep, mitos atau fakta. Nah usut punya usut ternyata dadap srep yang bernama latin Erythrinae Folium ini banyak kandungan obatnya serta banyak manfaatnya. Saya akan mencoba membantu berbagi informasi tentang daun dadap srep bagi yang belum tau ya ini sebagai informasi penting, bagi yang sudah tau ya mengingatkan saja. 
Daun dadap serep mengandung zat alkaloida yang sifatnya mendinginkan dan antiradang, serta terdapat kandungan eritradina, eritrina, eritramina, hipaforina, dan erisovina. Kulit kayunya berkhasiat mengencerkan dahak.

Selasa, 18 September 2012

Jembatan Jirak Angker Bagi Pengantin Baru






Jembatan Jirak berada di Desa Semanu, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Jembatan Jirak membentang di atas sungai Jirak yang konon menurut cerita jembatan ini angker, sebagai tempat bermukimnya jin dan setan. Masyarakat disekitar jembatan Jirak sering menghubung-hubungkan kejadian kecelakaan di Jembatan Jirak ini merupakan ulah dari jin dan setan yang tinggal di jembatan ini.
Menurut Pak Tugiman Jembatan Kali Jirak berasal dari cerita nenek moyang dahulu kala rombongan Wali yang tengah melakukan perjalanan syiar agama Islam singgah ditepi sungai ini dan untuk melepas lelah mereka bermain Jirak (Permainan tradisional) “Jirakan” (namun seperti apa permainan “jirakan” sampai saat ini belum ada yang tau).  Sehingga sungai tersebut dinamakan Sungai Jirak. Sungai Jirak membelah jalan besar yang ada pada saat itu sehingga di atasnya dibangunlah sebuah jembatan, jembatan tersebut bernama Jembatan Jirak. Jembatan Jirak pada awalnya dibangun sejak jaman Belanda menjajah 2 sekitar 350 tahun yang lalu. Jembatan Jirak pada awalnya dibangun dengan menggunakan kayu, tetapi setiap musim penghujan jembatan itu sering hayut terbawa oleh banjir, karena semakin bertambah pentingnya fungsi jembatan bagi masyarakat, jembatan tersebut akhirnya dibangun dengan bahan yang lebih kokoh, sampai saat ini sudah menjadi jembatan yang cukup besar.
Cerita rakyat yang paling menarik dari Jembatan Jirak ini adalah larangan pengantin baru yang belum genap 40 hari melewati jembatan ini. Sekitar tahun 1929 sepasang pengantin baru hilang di Jembatan Jirak konon berubah menjadi batu. Batu tersebut bernama “watu manten” sekarang batu tersebut sudah hilang ada beberapa cerita yang berkembang atas hilangnya “watu manten” diantaranya ; batu tersebut telah dihancurkan oleh penambang batu yang hendak membangun tanggul sebelah selatan, ada juga yang menyakini pindah tempat dan ada juga yang menyakini “watu manten” telah hilang terbawa banjir.


Salah satu tiang Jembatan Jirak konon digunakan tempat tinggal setan, sehingga jika ada pengantin baru yang masih “mambu kembang, bedak dan atal” lewat jembatan ini maka setan dan jin penunggu tiang jembatan tersebut akan mengganggu bahkan sampai menyelakainya. Menurut cerita Mbah Ngatemorejo Sagiyo pria berusia 83 tahun ini “Jare simbah biyen nek ono manten anyar wani lewat kene mesti keno alangan, malah ono sing nganti edan” (Katanya simbah dahulu kalau ada pengantin baru berani lewat disini (Jembatan Jirak) pasti dapat musibah, bahkan ada yang sampai gila).  Mbah Ngatemorejo Sagiyo menambahkan sebenarnya setiap tempat yang angker seperti kuburan, pohon besar, jembatan, batu besar banyak dihuni oleh setan ataupun jin, sehingga sebaiknya kita jika melewatinya membunyikan klakson sebagai bentuk ucapan permisi.
Saat ini ada masyarakat yang bukan warga Semanu masih ada yang meyakini lewat Jembatan Jirak bagi pengantin mereka memberikan sesaji berupa ; ayam jantan, kembang setaman, nasi putih, uang receh dan perlengkapan “nginang”.  Masyarakat di Semanu sendiri sudah banyak yang menganggap cerita itu sebagai mitos belaka.   (Ini hanya sebuah cerita rakyat bagi anda yang tidak percaya, anggap saja sebagai sebuah cerita mitos. Kepercayaan hanya pada Tuhan (Allah) yang memiliki segalannya). (Red_hnd-hr-rnt)
(Sumber : KORAN IBU Srikandi)


KONSULTASI OUTBOUND dan PIKNIK DI JOGJA dan Sekitarnya : 081804067470 / 085602108464

Kamis, 06 September 2012

Teka-Teki Reruntuhan Candi ; Antara Candi Ngawis dan Candi Konengan

Reruntuhan batu itu yang membuat semakin penasaran. Setelah "bulusukan" kesekian kalinya saya dan kawan-kawan berhasil juga menemukan lokasi reruntuhan candi di Desa Ngawis Kecamatan Karangmojo. Menurut petunjuk di desa ini ada 2 sisa reruntuhan candi yaitu Candi Ngawis dan Candi Konengan, namun letak pasti (padukuhan/dusun)dari kedua candi tersebut tidak ada yang tahu yang hanya menyebutkan keberadaan 2 candi tersebut berada di Desa Ngawis Kecamatan Karangmojo. Nah, dari sebuah rasa penasaran saya hampir 5 kali "blusukan" barulah terjawab sudah keberadaan 2 candi tersebut. Namun sekali lagi karena masyarakat disekitar juga tidak tahu nama reruntuhan candi ini maka saya hanya bisa menduga-duga saja.
1. Candi Ngawis (Alasannya karena reruntuhan candi ini berada di Padukuhan Ngawis, Desa Ngawis, Kecamatan Karangmojo).

2. Candi Konengan (Berada di Padukuhan Ganang, Desa Ngawis, Kecamatan Karangmojo).


Lagi-lagi emosi saya "ludiro inggil" kambuh melihat reruntuhan ini tak ada yg peduli berserakan dan banyak yang hilang. Kemungkinan besar arca-arcanya sudah dicuri oleh oknum yang bangga bisa mengalahkan danyang watu. 


Minggu, 02 September 2012

Mimi Lan Mintuno Melambangkan Cinta Sejati

   Foto Ilustrasi oleh Hery Fosil

Dalam budaya Jawa, sering kita jumpai doa yang terucap "Dadio pasangan koyo mimi lan mintuno". Apa yang kemudian terbesit dari doa itu. Ternyata banyak yang tidak faham apa yang dimaksud dengan "mimi lan mintuno". Saya mencoba mencari jawaban atas kegalau hati soal "mimi lan mintuno", akhirnya terpecahkan sudah apa itu "mimi lan mintuno" dan juga filosofinya mengapa pasangan setia itu selalu digambarkan dengan "mimi lan mintuno" 


Sumber foto : http://noenkcahyana.blogspot.com/2012/02/mimi-fosil-hidup-yang-ditemukan-di.html


Mimi, atau mintuna, ialah beberapa jenis hewan beruas (artropoda) yang menghuni perairan dangkal wilayah paya-paya dan kawasan mangrove yang berbentuk seperti ladam kuda berekor. Semuanya (empat jenis) termasuk dalam keluarga Limulidae dan menjadi wakil dari bangsa Xiphosurida yang masih bertahan hidup. Cetakan fosil hewan ini tidak mengalami perubahan bentuk berarti sejak masa Devon (400-250 juta tahun yang lalu) dibandingkan dengan bentuknya yang sekarang, meskipun jenisnya tidak sama. Mimi adalah nama dalam bahasa Jawa untuk yang berkelamin jantan dan mintuna adalah untuk yang berkelamin betina. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai horseshoe crab. Belangkas mudah ditangkap di tepi-tepi pantai. Sekitar 500.000 belangkas setiap tahun dikumpulkan di pesisir Timur AS, diatur di bawah hukum antarnegara bagian. (sumber wikipedia). 

Menurut beberapa informasi ikan mimi dan mintuna ini ikan yang ajaib. Kedua ikan tersebut tidak dapat dipisahkan. Jika ikan pasangan ini dipisahkan maka kedua-keduanya dipastikan mati. Keunikan lain dari ikan ini, menurut cerita jika ikan ini dimasak tidak bersamaan maka ikan ini akan beracun, tetapi jika dimasak bersamaan ikan ini dapat dikonsumsi biasa. Maka kemudian filosofi pasangan cinta sejati itu sering digambarkan dengan "mimi lan mintuna", kesetiaan ikan mimi lan mintuna tiada tandingan saling menjaga setia sampai mati."Runtung-runtung rerentengan pindha mimi lan mintuna"

Minggu, 26 Agustus 2012

Sejarah dan Asal Usul Air Terjun Sri Getuk

Salah satu primadona Wisata di Gunungkidul adalah Air terjun Sri gethuk. Air Terjun Sri Getuk terletak di padukuhan Menggoran, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul. Berada di sebelah barat daya kota Wonosari berjarak kurang lebih 10 Km. yang berdekatan dengan lokasi Wisata Goa Rancang Kencono, dengan arah dari Gua rancang kencono menuju kearah barat sejauh 500 meter, perjalanan menuju ke arah air terjun dapat ditempuh dengan jalan kaki melewati pematang sawah ataupun naik perahu kataraf. Air terjun Sri Gethuk terkenal dengan nama Air Terjun Slempret karena lokasi air terjun tersebut bertempat di lokasi blok Slempret, tempat tersebut sangatlah indah karena adanya air terjun yang diapit oleh tebing yang sangat tinggi bahkan tebing tersebut dengan ketinggian sampai dengan 50 m dengan suasana yang sangat romantis karena di daerah tersebut merupakan daerah sawah yang sepanjang tahun tidak pernah mengalami kekeringan, berbanding terbalik dengan kondisi kampung disekitar blok Slempret yang kering dan tandus.  dAir Terjun Sri Getuk berasal dari 3 sumber mata air yang cukup besar ; Sumber mata air dong Poh, Ngandong dan Ngumbul dengan rata – rata debit 30 s/d 60 l/dtk, sehingga di lokasi tersebut seperti di daerah ngarai, 
Menurut cerita legenda nama slempret sebenarnya adalah berasal dari kata Slompret yang merupakan alat musik tiup konon cerita bahwa lokasi tersebut adalah merupakan tempat atau pusatnya para jin/ makhluk halus yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata atau dapat di katakan bahwa tempat tersebut adalah merupakan tempat yang sangat angker dengan nama pimpinan para jin tersebut adalah jin Anggo Menduro. Jin adalah merupakan jin ini sangat menyukai dengan berbagai kesenian, hal tersebut dapat di buktikan bahwa di tempat tersebut pada saat – saat tertentu akan terdengar suara atau disebut dengan bahasa jawa pandulon yang suara tersebut kalau di dengarkan di lokasi padukuhan Menggoran dan sekitarnya berasal dari lokasi air terjun tetapi kalau didekati suara itu akan hilang , suara tersebut adalah suara rebana atau gamelan tetapi suara yg dominan adalah suara slompret maka tempat tersebut di kenal sebagai sebutan Slompret atau kemudian di sebut Slempret maka yang terkenal sampai dengan saat ini lokasi tersebut dengan Air terjun Slempret karena air tersebut berada di lokasi daerah Slempret.

Namun sebenarnya Air terjun tersebut bernama air tejun Sri Gethuk
Seperti pada cerita di awal bahwa tempat tersebut adalah merupakan pusatnya para jin yang di dalamnya sebagi pimpnannya adalah Jin Angga Manduro jin yang sangat suka dengan segala kesenian yang diantaranya adalah rebana dan juga Gamelan, Dalam cerita legenda Gamelan ini juga dapat dipinjam oleh manusia yang mempunyai kemampuan lebih dan juga dapat di manfaatkan untuk tabuan selayaknya gamelan biasa yang dapat kasat mata,
Dalam cerita legenda di lokasi wisata Slempret tersebut ada beberapa tempat untuk menyimpan gamelan milik Anggo Menduro di antaranya lokasi mergangsan dan juga Sri Kethuk, Mergangsan ini berada di sebelah bawah lokasi sungai Oya tempat tersebut disebut Mergangsan karena di pergunakan sebagai tempat menyimpan Gongso atau Gamelan, dan Sri Kethuk berada di lokasi air terjun tempat tersebut di sebut Sri Kethuk karena dipergunakan oleh Jin Anggo Menduro sebagai tempat penyimpanan salah satu instrumen gamelan dengan nama Getuk. Hingga kini nama tersebut menjadi Sri Gethuk.
Paket Wisata Desa Wisata Bleberan : 
HTM (Goa Rancang Kencono + Air Terjun Sri Getuk) : Rp. 5.000,00/orang
Naik Perahu : Rp. 10.000,00/orang (dewasa), Anak-anak Rp. 3.000,00
Sewa Pelampung : Rp. 5.000,00/pcs

Kamis, 09 Agustus 2012

Memaknai Selikuran (21 Ramadhan) Memadukan Agama dan Budaya



Sebelum membaca artikel ini sebaiknya kita sama-sama menghilangkan prasangka buruk atau berfikir negatif tentang budaya. Fikiran yang sudah dirasuki pemahaman negatif terhadap hubungan agama dan budaya takkan mampu menelaah pemikiran dan pemahaman baru tentang sisi positif hubungan agama dan budaya.
Selikuran (21 Ramadhan) menurut masyarakat jawa memiliki nilai/arti yang spesial. Tradisi malam selikuran (21 Ramadhan) adalah tradisi budaya sekaligus religius (agama) yang syarat dengan makna. Tentunya hal ini sangat istimewa, karena kita dapat melihat banyak nilai-nilai positif yang ada dalam peringatan selikuran tersebut. Berikut beberapa analisa positif “selikuran” baik di tinjau dari sudut pandang agama maupun budaya :
1.     “Selikuran” 21 Ramadhan menurut ajaran Islam dimaknai istimewa karena 21 Ramadhan menurut sejarah islam awal Rasulullah Saw memulai beri’tikaf (I'tikaf dalam pengertian bahasa berarti berdiam diri yakni tetap di atas sesuatu. Sedangkan dalam pengertian syari'ah agama, I'tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr) di sepuluh hari terkahir bulan Ramadan, Nabi Saw bersabda, "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (Bukhari dan Muslim). Dan Imam Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, Nabi Saw menjawab sesuai yang ditanyakan, yaitu ketika ada yang bertanya pada Nabi Saw : “apakah kami mencarinya di malam ini?, beliau menjawab: “carilah di malam tersebut” (Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah). Dari sinilah dapat dipastikan bahwa tradisi Selikuran memang terdapat perpaduan (sinkretisme) nilai-nilai Islam melalui budaya Jawa, sehingga akhirnya tradisi ini dilestarikan oleh kerajaan Islam pada masa itu, dan tetap bertahan hingga hari ini.
2.    Budaya masyarakat Jawa “Selikuran” diperingati dengan cara yang unik. Masyarakat Jawa memperingati “Selikuran” dengan acara kenduri bersama-sama (Sebaiknya sebelum melanjutkan membaca dan berkomentar tidak berfikir negatif dulu). Di dalam tradisi kenduri ini terdapat beberapa nilai positif yang bisa kita ambil hikmahnya diantaranya :
a.   Silaturahmi dan Kebersamaan ; masyarakat Jawa melaksanakn kenduri dibalai pertemuan (balai desa, balai dusun, balai RW) atau di rumah tokoh masyarakat / sesepuh. Kalau masyarkat yang tidak melakukan kegiatan kenduri berapa kali setahun bisa bersilaturahmi dengan seluruh tetangga satu padukuhan / RT / RW?
b.  Bersedekah : Makanan yang telah disiapkan dari rumah dikumpulkan jadi satu dan sebagian diberikan kepada ustadz / modin / kaum / tkoh masyarakat dan juga untuk takjil.
c.     Berbagi rasa : Kenduri yang dibuat pada peringatan selikuran ini menunya biasa (tidak dilebih-lebihkan) hanya nasi, sayur Lombok, tahu, tempe, mie dan kupuk. Makanan sederhana ini kemudian dikumpulkan jadi satu dan dicampur kemudian dibagikan lagi ke warga. Banyak rasa dalam masakan jadi satu.
d.    Doa Bersama : diakhiri acara kenduri juga dilaksanakan doa bersama dengan cara islam. Doa yang dipanjatkan untuk kelancaran puasa, harapan lailatul qodar, serta shalawat untuk rasulullah.
3.     Masyrakat Jawa juga memperingati “selikuran” dengan cukur rambut (budaya ini memang sudah jarang dilakukan, kecuali masyarakat jawa yang sudah berusia lanjut masih melakukannya) cukur rambut bermakna menyambut hari kemenangan ditandai dengan penampilan yang baru dan bersih serta terawat.
Memaknai setiap budaya harusnya memang adil dari segi positif dan negative, jangan sampi pandangan yang salah terhadap pemahaman budaya kemudian menjadi sebuah “penghakiman” musrik atau kafir suatu agama. Banyak nilai-nilai positif yang bisa diambil dari sebuah budaya, karena budaya itu diciptakan dengan berbagai pertimbangan filosofi dan nilai-nilai kehidupan.