Rabu, 07 November 2012

Daun Dadap Srep Mitos atau Fakta



Rasa penasaran saya terhadap daun "dadap srep" semakin menggila. Pasalnya setiap anak saya mriang atau panas, selalu simbok saya segera "mbingungi" untuk mencarikan daun dadap srep. Antara percaya dan tidak percaya masih sering hinggap dalam benak saya.Apa dibalik kehebatan daun dadap srep?

Nah pagi ini (08/11/2012) kebetulan waktunya longgar, kupergunakan untuk mencari info dibalik kehebatan daun dadap srep, mitos atau fakta. Nah usut punya usut ternyata dadap srep yang bernama latin Erythrinae Folium ini banyak kandungan obatnya serta banyak manfaatnya. Saya akan mencoba membantu berbagi informasi tentang daun dadap srep bagi yang belum tau ya ini sebagai informasi penting, bagi yang sudah tau ya mengingatkan saja. 
Daun dadap serep mengandung zat alkaloida yang sifatnya mendinginkan dan antiradang, serta terdapat kandungan eritradina, eritrina, eritramina, hipaforina, dan erisovina. Kulit kayunya berkhasiat mengencerkan dahak.

Selasa, 18 September 2012

Jembatan Jirak Angker Bagi Pengantin Baru






Jembatan Jirak berada di Desa Semanu, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Jembatan Jirak membentang di atas sungai Jirak yang konon menurut cerita jembatan ini angker, sebagai tempat bermukimnya jin dan setan. Masyarakat disekitar jembatan Jirak sering menghubung-hubungkan kejadian kecelakaan di Jembatan Jirak ini merupakan ulah dari jin dan setan yang tinggal di jembatan ini.
Menurut Pak Tugiman Jembatan Kali Jirak berasal dari cerita nenek moyang dahulu kala rombongan Wali yang tengah melakukan perjalanan syiar agama Islam singgah ditepi sungai ini dan untuk melepas lelah mereka bermain Jirak (Permainan tradisional) “Jirakan” (namun seperti apa permainan “jirakan” sampai saat ini belum ada yang tau).  Sehingga sungai tersebut dinamakan Sungai Jirak. Sungai Jirak membelah jalan besar yang ada pada saat itu sehingga di atasnya dibangunlah sebuah jembatan, jembatan tersebut bernama Jembatan Jirak. Jembatan Jirak pada awalnya dibangun sejak jaman Belanda menjajah 2 sekitar 350 tahun yang lalu. Jembatan Jirak pada awalnya dibangun dengan menggunakan kayu, tetapi setiap musim penghujan jembatan itu sering hayut terbawa oleh banjir, karena semakin bertambah pentingnya fungsi jembatan bagi masyarakat, jembatan tersebut akhirnya dibangun dengan bahan yang lebih kokoh, sampai saat ini sudah menjadi jembatan yang cukup besar.
Cerita rakyat yang paling menarik dari Jembatan Jirak ini adalah larangan pengantin baru yang belum genap 40 hari melewati jembatan ini. Sekitar tahun 1929 sepasang pengantin baru hilang di Jembatan Jirak konon berubah menjadi batu. Batu tersebut bernama “watu manten” sekarang batu tersebut sudah hilang ada beberapa cerita yang berkembang atas hilangnya “watu manten” diantaranya ; batu tersebut telah dihancurkan oleh penambang batu yang hendak membangun tanggul sebelah selatan, ada juga yang menyakini pindah tempat dan ada juga yang menyakini “watu manten” telah hilang terbawa banjir.


Salah satu tiang Jembatan Jirak konon digunakan tempat tinggal setan, sehingga jika ada pengantin baru yang masih “mambu kembang, bedak dan atal” lewat jembatan ini maka setan dan jin penunggu tiang jembatan tersebut akan mengganggu bahkan sampai menyelakainya. Menurut cerita Mbah Ngatemorejo Sagiyo pria berusia 83 tahun ini “Jare simbah biyen nek ono manten anyar wani lewat kene mesti keno alangan, malah ono sing nganti edan” (Katanya simbah dahulu kalau ada pengantin baru berani lewat disini (Jembatan Jirak) pasti dapat musibah, bahkan ada yang sampai gila).  Mbah Ngatemorejo Sagiyo menambahkan sebenarnya setiap tempat yang angker seperti kuburan, pohon besar, jembatan, batu besar banyak dihuni oleh setan ataupun jin, sehingga sebaiknya kita jika melewatinya membunyikan klakson sebagai bentuk ucapan permisi.
Saat ini ada masyarakat yang bukan warga Semanu masih ada yang meyakini lewat Jembatan Jirak bagi pengantin mereka memberikan sesaji berupa ; ayam jantan, kembang setaman, nasi putih, uang receh dan perlengkapan “nginang”.  Masyarakat di Semanu sendiri sudah banyak yang menganggap cerita itu sebagai mitos belaka.   (Ini hanya sebuah cerita rakyat bagi anda yang tidak percaya, anggap saja sebagai sebuah cerita mitos. Kepercayaan hanya pada Tuhan (Allah) yang memiliki segalannya). (Red_hnd-hr-rnt)
(Sumber : KORAN IBU Srikandi)

Kamis, 06 September 2012

Teka-Teki Reruntuhan Candi ; Antara Candi Ngawis dan Candi Konengan

Reruntuhan batu itu yang membuat semakin penasaran. Setelah "bulusukan" kesekian kalinya saya dan kawan-kawan berhasil juga menemukan lokasi reruntuhan candi di Desa Ngawis Kecamatan Karangmojo. Menurut petunjuk di desa ini ada 2 sisa reruntuhan candi yaitu Candi Ngawis dan Candi Konengan, namun letak pasti (padukuhan/dusun)dari kedua candi tersebut tidak ada yang tahu yang hanya menyebutkan keberadaan 2 candi tersebut berada di Desa Ngawis Kecamatan Karangmojo. Nah, dari sebuah rasa penasaran saya hampir 5 kali "blusukan" barulah terjawab sudah keberadaan 2 candi tersebut. Namun sekali lagi karena masyarakat disekitar juga tidak tahu nama reruntuhan candi ini maka saya hanya bisa menduga-duga saja.
1. Candi Ngawis (Alasannya karena reruntuhan candi ini berada di Padukuhan Ngawis, Desa Ngawis, Kecamatan Karangmojo).

2. Candi Konengan (Berada di Padukuhan Ganang, Desa Ngawis, Kecamatan Karangmojo).


Lagi-lagi emosi saya "ludiro inggil" kambuh melihat reruntuhan ini tak ada yg peduli berserakan dan banyak yang hilang. Kemungkinan besar arca-arcanya sudah dicuri oleh oknum yang bangga bisa mengalahkan danyang watu. 


Minggu, 02 September 2012

Mimi Lan Mintuno Melambangkan Cinta Sejati

   Foto Ilustrasi oleh Hery Fosil

Dalam budaya Jawa, sering kita jumpai doa yang terucap "Dadio pasangan koyo mimi lan mintuno". Apa yang kemudian terbesit dari doa itu. Ternyata banyak yang tidak faham apa yang dimaksud dengan "mimi lan mintuno". Saya mencoba mencari jawaban atas kegalau hati soal "mimi lan mintuno", akhirnya terpecahkan sudah apa itu "mimi lan mintuno" dan juga filosofinya mengapa pasangan setia itu selalu digambarkan dengan "mimi lan mintuno" 


Sumber foto : http://noenkcahyana.blogspot.com/2012/02/mimi-fosil-hidup-yang-ditemukan-di.html


Mimi, atau mintuna, ialah beberapa jenis hewan beruas (artropoda) yang menghuni perairan dangkal wilayah paya-paya dan kawasan mangrove yang berbentuk seperti ladam kuda berekor. Semuanya (empat jenis) termasuk dalam keluarga Limulidae dan menjadi wakil dari bangsa Xiphosurida yang masih bertahan hidup. Cetakan fosil hewan ini tidak mengalami perubahan bentuk berarti sejak masa Devon (400-250 juta tahun yang lalu) dibandingkan dengan bentuknya yang sekarang, meskipun jenisnya tidak sama. Mimi adalah nama dalam bahasa Jawa untuk yang berkelamin jantan dan mintuna adalah untuk yang berkelamin betina. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai horseshoe crab. Belangkas mudah ditangkap di tepi-tepi pantai. Sekitar 500.000 belangkas setiap tahun dikumpulkan di pesisir Timur AS, diatur di bawah hukum antarnegara bagian. (sumber wikipedia). 

Menurut beberapa informasi ikan mimi dan mintuna ini ikan yang ajaib. Kedua ikan tersebut tidak dapat dipisahkan. Jika ikan pasangan ini dipisahkan maka kedua-keduanya dipastikan mati. Keunikan lain dari ikan ini, menurut cerita jika ikan ini dimasak tidak bersamaan maka ikan ini akan beracun, tetapi jika dimasak bersamaan ikan ini dapat dikonsumsi biasa. Maka kemudian filosofi pasangan cinta sejati itu sering digambarkan dengan "mimi lan mintuna", kesetiaan ikan mimi lan mintuna tiada tandingan saling menjaga setia sampai mati."Runtung-runtung rerentengan pindha mimi lan mintuna"

Minggu, 26 Agustus 2012

Sejarah dan Asal Usul Air Terjun Sri Getuk

Salah satu primadona Wisata di Gunungkidul adalah Air terjun Sri gethuk. Air Terjun Sri Getuk terletak di padukuhan Menggoran, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul. Berada di sebelah barat daya kota Wonosari berjarak kurang lebih 10 Km. yang berdekatan dengan lokasi Wisata Goa Rancang Kencono, dengan arah dari Gua rancang kencono menuju kearah barat sejauh 500 meter, perjalanan menuju ke arah air terjun dapat ditempuh dengan jalan kaki melewati pematang sawah ataupun naik perahu kataraf. Air terjun Sri Gethuk terkenal dengan nama Air Terjun Slempret karena lokasi air terjun tersebut bertempat di lokasi blok Slempret, tempat tersebut sangatlah indah karena adanya air terjun yang diapit oleh tebing yang sangat tinggi bahkan tebing tersebut dengan ketinggian sampai dengan 50 m dengan suasana yang sangat romantis karena di daerah tersebut merupakan daerah sawah yang sepanjang tahun tidak pernah mengalami kekeringan, berbanding terbalik dengan kondisi kampung disekitar blok Slempret yang kering dan tandus.  dAir Terjun Sri Getuk berasal dari 3 sumber mata air yang cukup besar ; Sumber mata air dong Poh, Ngandong dan Ngumbul dengan rata – rata debit 30 s/d 60 l/dtk, sehingga di lokasi tersebut seperti di daerah ngarai, 
Menurut cerita legenda nama slempret sebenarnya adalah berasal dari kata Slompret yang merupakan alat musik tiup konon cerita bahwa lokasi tersebut adalah merupakan tempat atau pusatnya para jin/ makhluk halus yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata atau dapat di katakan bahwa tempat tersebut adalah merupakan tempat yang sangat angker dengan nama pimpinan para jin tersebut adalah jin Anggo Menduro. Jin adalah merupakan jin ini sangat menyukai dengan berbagai kesenian, hal tersebut dapat di buktikan bahwa di tempat tersebut pada saat – saat tertentu akan terdengar suara atau disebut dengan bahasa jawa pandulon yang suara tersebut kalau di dengarkan di lokasi padukuhan Menggoran dan sekitarnya berasal dari lokasi air terjun tetapi kalau didekati suara itu akan hilang , suara tersebut adalah suara rebana atau gamelan tetapi suara yg dominan adalah suara slompret maka tempat tersebut di kenal sebagai sebutan Slompret atau kemudian di sebut Slempret maka yang terkenal sampai dengan saat ini lokasi tersebut dengan Air terjun Slempret karena air tersebut berada di lokasi daerah Slempret.

Namun sebenarnya Air terjun tersebut bernama air tejun Sri Gethuk
Seperti pada cerita di awal bahwa tempat tersebut adalah merupakan pusatnya para jin yang di dalamnya sebagi pimpnannya adalah Jin Angga Manduro jin yang sangat suka dengan segala kesenian yang diantaranya adalah rebana dan juga Gamelan, Dalam cerita legenda Gamelan ini juga dapat dipinjam oleh manusia yang mempunyai kemampuan lebih dan juga dapat di manfaatkan untuk tabuan selayaknya gamelan biasa yang dapat kasat mata,
Dalam cerita legenda di lokasi wisata Slempret tersebut ada beberapa tempat untuk menyimpan gamelan milik Anggo Menduro di antaranya lokasi mergangsan dan juga Sri Kethuk, Mergangsan ini berada di sebelah bawah lokasi sungai Oya tempat tersebut disebut Mergangsan karena di pergunakan sebagai tempat menyimpan Gongso atau Gamelan, dan Sri Kethuk berada di lokasi air terjun tempat tersebut di sebut Sri Kethuk karena dipergunakan oleh Jin Anggo Menduro sebagai tempat penyimpanan salah satu instrumen gamelan dengan nama Getuk. Hingga kini nama tersebut menjadi Sri Gethuk.
Paket Wisata Desa Wisata Bleberan : 
HTM (Goa Rancang Kencono + Air Terjun Sri Getuk) : Rp. 5.000,00/orang
Naik Perahu : Rp. 10.000,00/orang (dewasa), Anak-anak Rp. 3.000,00
Sewa Pelampung : Rp. 5.000,00/pcs

Kamis, 09 Agustus 2012

Memaknai Selikuran (21 Ramadhan) Memadukan Agama dan Budaya



Sebelum membaca artikel ini sebaiknya kita sama-sama menghilangkan prasangka buruk atau berfikir negatif tentang budaya. Fikiran yang sudah dirasuki pemahaman negatif terhadap hubungan agama dan budaya takkan mampu menelaah pemikiran dan pemahaman baru tentang sisi positif hubungan agama dan budaya.
Selikuran (21 Ramadhan) menurut masyarakat jawa memiliki nilai/arti yang spesial. Tradisi malam selikuran (21 Ramadhan) adalah tradisi budaya sekaligus religius (agama) yang syarat dengan makna. Tentunya hal ini sangat istimewa, karena kita dapat melihat banyak nilai-nilai positif yang ada dalam peringatan selikuran tersebut. Berikut beberapa analisa positif “selikuran” baik di tinjau dari sudut pandang agama maupun budaya :
1.     “Selikuran” 21 Ramadhan menurut ajaran Islam dimaknai istimewa karena 21 Ramadhan menurut sejarah islam awal Rasulullah Saw memulai beri’tikaf (I'tikaf dalam pengertian bahasa berarti berdiam diri yakni tetap di atas sesuatu. Sedangkan dalam pengertian syari'ah agama, I'tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr) di sepuluh hari terkahir bulan Ramadan, Nabi Saw bersabda, "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (Bukhari dan Muslim). Dan Imam Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, Nabi Saw menjawab sesuai yang ditanyakan, yaitu ketika ada yang bertanya pada Nabi Saw : “apakah kami mencarinya di malam ini?, beliau menjawab: “carilah di malam tersebut” (Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah). Dari sinilah dapat dipastikan bahwa tradisi Selikuran memang terdapat perpaduan (sinkretisme) nilai-nilai Islam melalui budaya Jawa, sehingga akhirnya tradisi ini dilestarikan oleh kerajaan Islam pada masa itu, dan tetap bertahan hingga hari ini.
2.    Budaya masyarakat Jawa “Selikuran” diperingati dengan cara yang unik. Masyarakat Jawa memperingati “Selikuran” dengan acara kenduri bersama-sama (Sebaiknya sebelum melanjutkan membaca dan berkomentar tidak berfikir negatif dulu). Di dalam tradisi kenduri ini terdapat beberapa nilai positif yang bisa kita ambil hikmahnya diantaranya :
a.   Silaturahmi dan Kebersamaan ; masyarakat Jawa melaksanakn kenduri dibalai pertemuan (balai desa, balai dusun, balai RW) atau di rumah tokoh masyarakat / sesepuh. Kalau masyarkat yang tidak melakukan kegiatan kenduri berapa kali setahun bisa bersilaturahmi dengan seluruh tetangga satu padukuhan / RT / RW?
b.  Bersedekah : Makanan yang telah disiapkan dari rumah dikumpulkan jadi satu dan sebagian diberikan kepada ustadz / modin / kaum / tkoh masyarakat dan juga untuk takjil.
c.     Berbagi rasa : Kenduri yang dibuat pada peringatan selikuran ini menunya biasa (tidak dilebih-lebihkan) hanya nasi, sayur Lombok, tahu, tempe, mie dan kupuk. Makanan sederhana ini kemudian dikumpulkan jadi satu dan dicampur kemudian dibagikan lagi ke warga. Banyak rasa dalam masakan jadi satu.
d.    Doa Bersama : diakhiri acara kenduri juga dilaksanakan doa bersama dengan cara islam. Doa yang dipanjatkan untuk kelancaran puasa, harapan lailatul qodar, serta shalawat untuk rasulullah.
3.     Masyrakat Jawa juga memperingati “selikuran” dengan cukur rambut (budaya ini memang sudah jarang dilakukan, kecuali masyarakat jawa yang sudah berusia lanjut masih melakukannya) cukur rambut bermakna menyambut hari kemenangan ditandai dengan penampilan yang baru dan bersih serta terawat.
Memaknai setiap budaya harusnya memang adil dari segi positif dan negative, jangan sampi pandangan yang salah terhadap pemahaman budaya kemudian menjadi sebuah “penghakiman” musrik atau kafir suatu agama. Banyak nilai-nilai positif yang bisa diambil dari sebuah budaya, karena budaya itu diciptakan dengan berbagai pertimbangan filosofi dan nilai-nilai kehidupan.

Minggu, 22 Juli 2012

Koleksi Foto Satwa "Ndeso"

Berikut saya "pamerkan" Koleksi foto-foto satwa "ndeso".













Jumat, 20 Juli 2012

Pantai Pok Tunggal


Deretan pantai sepanjang hampir 70km yang membentang di selatan Gunungkidul sangat menarik untuk dieksplor satu persatu. Pada kesempatan kali ini saya akan "pamer" foto-foto di pantai Pok tunggal saja tanpa banyak bercerita.

Pantai Pok Tunggal berada di Desa Tepus Kecamatan Tepus, Gunungkidul berada di timur Pantai Indrayanti / Pulang Syawal. Jalan masuknya sebeleum TPR timur belok kiri kira-kira 2km, jalan corblok sebagian masih batu. Tapi begitu sampai lokasi petualangan anda akan terbayarkan oleh indahnya pantai Pok Tunggal.

Candi Sumberejo, Semin



Arca dan lingga di Sendang Logantung, Sumberejo, Semin, Gunungkidul. Puas rasanya menemukan arca-arca ditempat ini setelah perburuan hampir 8 jam tanpa hasil di Ngawen. 




Sebelum sampai di lokasi Sendang Logantung ini saya mampir di warung berjarak 50 meter dari Sendang Logantung, bertanya kepada penjual yang masih muda belia + cantik umur sekitar 22 tahun tentang keberadaan "batu purbakala" ini, ternyata sedih kudapati karena jawabane "tekan gedene semene iki aku malah urung tau ngerti karo krungu mas watu purbakala neng kene, sing ono malah gunung kucing kono akeh watune do ditambang, neng gunung kucing yo akeh ulo gede-gede mas koyo ulo sanca, piton"

Candi Giring, Paliyan


 Blusukan kali ini sampai juga di antara runtuhan sejarah Candi Giring di Padukuhan Candi, Desa Giring, Kecamatan Paliyan Kabupaten Gunungkidul. Di tempat ini kita bisa menemukan stupa, umpak.

Menelusuri jejak sejarah di Gunungkidul memang tiada habisnya. Tak akan cukup waktu seminggu untuk bisa menyelesaikan pencarian jejak sejarah yang tersebar hampir diseluruh wilayah Gunungkidul. Mulai dari sejarah Megalitikum, sejarah budha, sejarah hindu (majapahit) pelarian perang pajang, sampai pada sejarah wali. 



Candi Pulutan, Wonosari


Tidak banyak yang tahu jika dibalik "semak-semak atau grumbul" ini terdapat saksi sejarah peradaban manusia. Candi Pulutan merupakan bukti sejarah di Gunungkidul. Candi Pulutan terletak di utara makam Padukuhan Butuh, Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Sisa reruntuhan di Situs ini adalah reruntuhan candi berbahan baku batu putih. Di Situs ini yang dapat  terlihat jelas adalah beberapa batu putih yang bentuknya mirip batu nisan atau kemuncak serta lapik arca/yoni yang terkubur sebagian.
Meski sudah didata Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) DIY, hingga kini sepertinya candi itu belum dieskavasi. Empat pohon dan semak berduri yang besar tumbuh liar tepat di atasnya sehingga menutup semua bangunan candi seluas sekitar 15 meter persegi itu.


Watu Gendong, Ngawen



MISTERI WATU GENDONG ; Blusukan Menjelang Ramadhan Kamis 19/7/2012 di Ngawen, menemukan bongkahan-bongkahan batu besar yang ketika saya bertanya kepada masyarakat, batu ini biasa isebut dengan "Watu Gendong". Saya tidak tahu apakah watu gendong ini masih situs purbakala sebagai sisa peradaban pra sejarah atau hanya batu-batu besar yang dikeramatkan? Kisah rakyat yang berkembang adalah watu gendong ini dulu sampai dilokasi digendong oleh Para Wali menggunakan pohon sembukan ( Paederia scadens ) yang tujuannya batu tersebut akan digunakan untuk membendung sendang Ngawen.



Saya sempat ngobrol dengan salah seorang masyarakat yang berada di dekat lokasi tersebut, menurut beliau dilokasi ladang yang terdapat watu gendong ini angker, karena tanahnya kalau mau panen harus dilakukan ritual terlebih dahulu, yaitu memberikan tumbal berupa ayam cemani hidup yang diikat disalah satu pohon diladang tersebut. Menurutnya kalau ritual ini tidak dilakukan maka biasanya akan gagal panen. Watu Gendong berada di Padukuhan Duren, Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul (Bawah Hutan Wonosadi) berjarak sekitar 25 Km dari kota wonosari. Jika ditelusuri dari Gunung Gambar Ngawen ke Gunung Api Purba tepatnya di Gunung Nglanggeran memang masih satu jalur mungkin saja Watu Gendong di daerah Beji Kecamatan Ngawen memiliki kaitan yang erat, karena jenis batuannya sama-sama batuan vulkanik. 

Minggu, 22 April 2012

Petualangan Goa dan Pantai Greweng - Sedahan Girisubo

                                                                       Pantai Sedahan
                                                                        Pantai Greweng

Petualangan Minggu Jampi Stres 22 April 2012 kali ini bersama Hery Fosil, Agus Jhody, Harun, Roy Siung, Nia Santi, Cahyo, Tepas, Tini, Yogi dan Edy Dhani. Petualangan Minggu pagi tersebut molor hampir dua jam yang akhirnya jadi petualangan Siang. Setelah kami kumpul di Markaz.net Semanu jam 11 meluncur ke Pantai Wediombo. Jangan lupa bayar TPR Rp. 3.000,00 (Pas kemarin dibayari mas Roy Siung). Setelah masuk TPR Pantai Wediombo kami bertemu dengan mas Edy Dhani yang Gowes dari Wonosari Sampai Wediombo. Setlah itu kendaraan kami di parkir di parkiran atas, lagi2 masih dibayari mas Roy Siung.

Selasa, 10 April 2012

Eksplorasi Goa Ngingrong

Gunungkidul menyimpan sejuta pesona goa. Takkan selesai satu bulan untuk mengeksplorasi goa-goa yang ada di Gunungkidul. Hampir 500 goa yang ada di Gunungkidul, baik berupa goa horinzontal, goa vertikal dengan kondisi goa basah dan kering.
Eksplorasi goa minggu ini (8 April 2012) di lembah Mulo, Wonosari, Gunungkidul. Lokasi yang sangat strategis berada dipinggir jalan raya Wonosari-Tepus memudahkan pencarian lembah Mulo. Tim kali ini berjumlah 15 orang (Hery Fosil, Depri, Mbah Dadi, Nia, Najib, Dani, Fifin, Tommy, Pekik, Mas Aziz, Danang, 2 muridnya mbah dadi dan 3 cewek temene mas Aziz lupa namanya. hehehehe). Ada beberapa goa di lembah Mulo yang cukup mengundang rasa penasaran saya untuk mengeksplorasi goa tersebut.
Goa Ngingrong berada di lembah Mulo, terdapat dua goa yaitu goa sebelah timur dan goa sebelah barat. kedua goa memiliki karakteristik berbeda dan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda juga.

Rabu, 29 Februari 2012

Pesan Untuk Anakku

Masa lalu yang begitu kelam, telah aku lalui. Terpisah dari kedua orang tua akibat "perceraian". Aku dibesarkan dengan diasuh oleh wanita perkasa "simbokku" (simbah) dan dibimbing oleh keperkasaan "pak lekku". Menurut cerita "simbokku" aku sudah ditinggal pergi kedua orangtuaku sejak umurku baru berusia sekitar 10-11 bulan. Bapakku pergi entah kemana sampai saat ini tak pernah kami bertemu, ibuku pergi mengadu nasib di ibu kota negara, namun nyatanya tak juga "ngopeni" dengan baik, hanya sesekali kalau lebaran saja ia berikan aku baju baru dan sedikit uang untuk jajan.
Air tajin pengganti ASI itu yang mereka (simbok & Pak Lekku) berikan, maklum "simbokku" bukanlah seorang janda yang kaya (janda karena suaminya meninggal). Sesekali jika ada rejeki dari buruh tani katanya aku juga dibelikan susu kaleng. Kehidupan yang serba terbatas hingga aku menginjak usia dewasa ini yang mampu menguatkan hati dan semangatku. Tak pernah rasanya aku menyesal bersama orang-orang hebat itu. Tak pernah mereka ajarkan aku untuk mengeluh, tak pernah mereka ajarkan untukku meminta-minta. Selama tubuh ini masih bisa berkeringat pantang untuk "krida lumaing asta".

Jumat, 24 Februari 2012

Daftar Penginapan di Gunungkidul

Berikut daftar penginapan di Gunungkidul, bagi anda yang ingin berlibur dan membutuhkan tempat untuk istirahat. Semoga bermanfaat.

1. Hotel Rahayu

Kelas : Melati

Fasilitas : 5 kamar

Tarif : Rp 40.000,- s.d. Rp 50.000,

Alamat : Girijati, Purwosari, Hp 081578865005


2. Hotel Atas

Kelas : Melati

Fasilitas : 6 kamar

Tarif : Rp 40.000, -

Alamat : Girijati, Purwosari, Hp 081578829047


3. Hotel Mitra Wisata

Kelas : Melati

Fasilitas : 6 kamar

Tarif : Rp 40.000,-

Alamat : Girijati,Purwosari

Tradisi "Kenduri Metik" Sebelum Panen Raya


Panen raya telah tiba. Petani pun bersuka cita. Dimulai dengan panen Jagung, Kacang, Kedelai dan padi. Ada yang menarik tradisi kenduri metik sebelum panen padi yang dilaksanakan oleh beberapa keluarga di Jelok, Beji, Patuk. Tradisi ini sudah hampir punah, sangat sedikit petani yang melaksanakn kenduri ini.


Kenduri Metik adalah tradisi berdoa sebelum melaksanakan panen padi oleh petani. Kenduri yang diiringi dengan doa yang dilaksanakan di tengah sawah, sehingga nasi kenduri dibawa ke sawah. Kaum atau modin kemudian membacakan harapan-harapan petani dalam bahasa jawa dan kemudian diakhiri dengan doa.

Kamis, 23 Februari 2012

MENYUSURI SUNGAI OYA DENGAN PERAHU KANO



Satu lagi wisata petualang di Gunungkidul, menyusuri sungai Oya selama 1,5 jam dengan start dari Jembatan Tleseh, Bunder berakhir di Desa Wisata Kampoeng Nusantara Jelok, Beji, Patuk, Gunungkidul.



Wisatawan akan dipacu adrenalinnya selama 1,5 jam di atas perahu kano. Menyusuri sungai Oya yang penuh tantangan, nikmati juga jeram-jeramnya serta keheningan alam yang menandakan sungai ini juga memiliki daerah-daerah yang airnya begitu dalam.