Selasa, 18 September 2012

Jembatan Jirak Angker Bagi Pengantin Baru






Jembatan Jirak berada di Desa Semanu, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Jembatan Jirak membentang di atas sungai Jirak yang konon menurut cerita jembatan ini angker, sebagai tempat bermukimnya jin dan setan. Masyarakat disekitar jembatan Jirak sering menghubung-hubungkan kejadian kecelakaan di Jembatan Jirak ini merupakan ulah dari jin dan setan yang tinggal di jembatan ini.
Menurut Pak Tugiman Jembatan Kali Jirak berasal dari cerita nenek moyang dahulu kala rombongan Wali yang tengah melakukan perjalanan syiar agama Islam singgah ditepi sungai ini dan untuk melepas lelah mereka bermain Jirak (Permainan tradisional) “Jirakan” (namun seperti apa permainan “jirakan” sampai saat ini belum ada yang tau).  Sehingga sungai tersebut dinamakan Sungai Jirak. Sungai Jirak membelah jalan besar yang ada pada saat itu sehingga di atasnya dibangunlah sebuah jembatan, jembatan tersebut bernama Jembatan Jirak. Jembatan Jirak pada awalnya dibangun sejak jaman Belanda menjajah 2 sekitar 350 tahun yang lalu. Jembatan Jirak pada awalnya dibangun dengan menggunakan kayu, tetapi setiap musim penghujan jembatan itu sering hayut terbawa oleh banjir, karena semakin bertambah pentingnya fungsi jembatan bagi masyarakat, jembatan tersebut akhirnya dibangun dengan bahan yang lebih kokoh, sampai saat ini sudah menjadi jembatan yang cukup besar.
Cerita rakyat yang paling menarik dari Jembatan Jirak ini adalah larangan pengantin baru yang belum genap 40 hari melewati jembatan ini. Sekitar tahun 1929 sepasang pengantin baru hilang di Jembatan Jirak konon berubah menjadi batu. Batu tersebut bernama “watu manten” sekarang batu tersebut sudah hilang ada beberapa cerita yang berkembang atas hilangnya “watu manten” diantaranya ; batu tersebut telah dihancurkan oleh penambang batu yang hendak membangun tanggul sebelah selatan, ada juga yang menyakini pindah tempat dan ada juga yang menyakini “watu manten” telah hilang terbawa banjir.


Salah satu tiang Jembatan Jirak konon digunakan tempat tinggal setan, sehingga jika ada pengantin baru yang masih “mambu kembang, bedak dan atal” lewat jembatan ini maka setan dan jin penunggu tiang jembatan tersebut akan mengganggu bahkan sampai menyelakainya. Menurut cerita Mbah Ngatemorejo Sagiyo pria berusia 83 tahun ini “Jare simbah biyen nek ono manten anyar wani lewat kene mesti keno alangan, malah ono sing nganti edan” (Katanya simbah dahulu kalau ada pengantin baru berani lewat disini (Jembatan Jirak) pasti dapat musibah, bahkan ada yang sampai gila).  Mbah Ngatemorejo Sagiyo menambahkan sebenarnya setiap tempat yang angker seperti kuburan, pohon besar, jembatan, batu besar banyak dihuni oleh setan ataupun jin, sehingga sebaiknya kita jika melewatinya membunyikan klakson sebagai bentuk ucapan permisi.
Saat ini ada masyarakat yang bukan warga Semanu masih ada yang meyakini lewat Jembatan Jirak bagi pengantin mereka memberikan sesaji berupa ; ayam jantan, kembang setaman, nasi putih, uang receh dan perlengkapan “nginang”.  Masyarakat di Semanu sendiri sudah banyak yang menganggap cerita itu sebagai mitos belaka.   (Ini hanya sebuah cerita rakyat bagi anda yang tidak percaya, anggap saja sebagai sebuah cerita mitos. Kepercayaan hanya pada Tuhan (Allah) yang memiliki segalannya). (Red_hnd-hr-rnt)
(Sumber : KORAN IBU Srikandi)

Kamis, 06 September 2012

Teka-Teki Reruntuhan Candi ; Antara Candi Ngawis dan Candi Konengan

Reruntuhan batu itu yang membuat semakin penasaran. Setelah "bulusukan" kesekian kalinya saya dan kawan-kawan berhasil juga menemukan lokasi reruntuhan candi di Desa Ngawis Kecamatan Karangmojo. Menurut petunjuk di desa ini ada 2 sisa reruntuhan candi yaitu Candi Ngawis dan Candi Konengan, namun letak pasti (padukuhan/dusun)dari kedua candi tersebut tidak ada yang tahu yang hanya menyebutkan keberadaan 2 candi tersebut berada di Desa Ngawis Kecamatan Karangmojo. Nah, dari sebuah rasa penasaran saya hampir 5 kali "blusukan" barulah terjawab sudah keberadaan 2 candi tersebut. Namun sekali lagi karena masyarakat disekitar juga tidak tahu nama reruntuhan candi ini maka saya hanya bisa menduga-duga saja.
1. Candi Ngawis (Alasannya karena reruntuhan candi ini berada di Padukuhan Ngawis, Desa Ngawis, Kecamatan Karangmojo).

2. Candi Konengan (Berada di Padukuhan Ganang, Desa Ngawis, Kecamatan Karangmojo).


Lagi-lagi emosi saya "ludiro inggil" kambuh melihat reruntuhan ini tak ada yg peduli berserakan dan banyak yang hilang. Kemungkinan besar arca-arcanya sudah dicuri oleh oknum yang bangga bisa mengalahkan danyang watu. 


Minggu, 02 September 2012

Mimi Lan Mintuno Melambangkan Cinta Sejati

   Foto Ilustrasi oleh Hery Fosil

Dalam budaya Jawa, sering kita jumpai doa yang terucap "Dadio pasangan koyo mimi lan mintuno". Apa yang kemudian terbesit dari doa itu. Ternyata banyak yang tidak faham apa yang dimaksud dengan "mimi lan mintuno". Saya mencoba mencari jawaban atas kegalau hati soal "mimi lan mintuno", akhirnya terpecahkan sudah apa itu "mimi lan mintuno" dan juga filosofinya mengapa pasangan setia itu selalu digambarkan dengan "mimi lan mintuno" 


Sumber foto : http://noenkcahyana.blogspot.com/2012/02/mimi-fosil-hidup-yang-ditemukan-di.html


Mimi, atau mintuna, ialah beberapa jenis hewan beruas (artropoda) yang menghuni perairan dangkal wilayah paya-paya dan kawasan mangrove yang berbentuk seperti ladam kuda berekor. Semuanya (empat jenis) termasuk dalam keluarga Limulidae dan menjadi wakil dari bangsa Xiphosurida yang masih bertahan hidup. Cetakan fosil hewan ini tidak mengalami perubahan bentuk berarti sejak masa Devon (400-250 juta tahun yang lalu) dibandingkan dengan bentuknya yang sekarang, meskipun jenisnya tidak sama. Mimi adalah nama dalam bahasa Jawa untuk yang berkelamin jantan dan mintuna adalah untuk yang berkelamin betina. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai horseshoe crab. Belangkas mudah ditangkap di tepi-tepi pantai. Sekitar 500.000 belangkas setiap tahun dikumpulkan di pesisir Timur AS, diatur di bawah hukum antarnegara bagian. (sumber wikipedia). 

Menurut beberapa informasi ikan mimi dan mintuna ini ikan yang ajaib. Kedua ikan tersebut tidak dapat dipisahkan. Jika ikan pasangan ini dipisahkan maka kedua-keduanya dipastikan mati. Keunikan lain dari ikan ini, menurut cerita jika ikan ini dimasak tidak bersamaan maka ikan ini akan beracun, tetapi jika dimasak bersamaan ikan ini dapat dikonsumsi biasa. Maka kemudian filosofi pasangan cinta sejati itu sering digambarkan dengan "mimi lan mintuna", kesetiaan ikan mimi lan mintuna tiada tandingan saling menjaga setia sampai mati."Runtung-runtung rerentengan pindha mimi lan mintuna"