Kamis, 22 Januari 2015

Mendadak Sindoro

Menikmati Gagahnya Gunung Sumbing dari Puncak Gunung Sindoro

Majulah tanpa menyingkirkan orang lain
Naiklah tinggi tanpa menjatuhkan orang lain. 

Lagi-lagi soal mendaki, kecanduan mendaki mungkin. Belajar menjalani hidup dari mendaki. Terus belajar dan belajar. Untuk maju melanjutkan pendakian, kita tidak perlu menyingkirkan pendaki lain, tapi cukup menyapa dan permisi saja. Untuk naik ke puncak kita juga tidak perlu menjatuhkan orang lain, cukup menunggu kesempatan, jika pendaki lain capek maka giliran kita menyalip dan tetap menyapa dengan senyum dan permisi, ga perlu mencaci atau memaki orang lain. 

Perjalanan Muncak Gunung Sindoro adalah perjalanan tanpa rencana, hanya mendadak dan tancap gas. Seperti itu juga jika Tuhan berkehendak apapun bisa terjadi tanpa menunggu lama, tapi kadang prosesnya juga lama. Kuat tidak kita menjalani prosesnya. Hidup harus terus berproses, kesempatan itu datang berkali-kali. 


Muncak Sindoro pada 17-18/1/2015 awalnya diajak Mas Amin pada 12/1/2015, saya jawab pada waktu itu, saya tak rembugkan dulu sama "Dek......." setelah seharian diskusi akhirnya saya diijinkan dengan catatan tidak boleh macam-macam, tidak boleh capek, tidak boleh hitam, tidak boleh lupa makan dan lain-lain..... Ya saya sepakat.

Mendadak pada 13-15/1/2015 saya dilanda sakit perut dan ulu hati yang luar biasa, hingga pada 15/1/2015 saya ga kuat dan memeriksakan ke dokter divonis asam lambung meningkat dan pulang dibekali obat seabrek, ah syudahlah...... ini pasti Sindoro gagal (gumamku). 

16/1/2015 saya smsan dengan mas Amin, intinya belum pasti bisa ikut. Tapi saya pasti datang ke Paten, Sleman soale rombongan yang tadinya cuma 8 orang semuanya adalah teman2 PPMI DIY kecuali mas Najib mau pinjam tenda saya. 17/1/2015 perut sudah mulai nyaman, walau kadang masih terasa nyeri, atas ijin "Dek...." yang dengan catatan tambahan tidak lupa minum obat akhirnya saya berangkat. 

Sampai Paten rumah mas Amin, saya paling tertib, jam 12.00 WIB saya sudah stay tanpa persiapan apapun cuma baju-celana dan jaket+sarung saja, disusul Mas Buyung, Arif, Edwin, Beben, Sri, Najib, Sukma dan nunggu rombongan lain yang juga mendadak ikut ke Sindoro. Sekitar jam 15.00 rencananya kita akan berangkat tapi rombongan yang mendadak mau ikut Arif, Farida, Katon, Aji, Ayu, Erwin, Buyan, Putri, Odeg, Fitri, Awal dan Hani belum juga datang akhirnya diundur sampai jam 15.30. 

Rombongan Arif, Farida, Katon, Aji, Ayu dan Erwin yang kesasar sampai Seyegan akhirnya datang juga dan rombongan Buyan, Putri, Odeg, Fitri, Awal dan Hani terpaksa kita tinggal dan kita tunggu sambil jalan. 

Sampai Magelang akhirnya ketemu juga rombongan mas Buyan, Putri, Odeg, Fitri, Awal dan Hani langsung tancap gas menuju Kledung, Temanggung, Jawa Tengah. Sebelum sampai di Kledung sekitar pukul 18.30 kita sempat mampir cari bekal dan istirahat, maklum beum pada bawa bekal. Saya terpaksa menahan rasa sakit dan segera mengganjal perut untuk segera dihantam obat seplastik. 

Sampai basecamp pendakian Sindoro di Kledung sekitar pukul 19.30an dan kita sempat makan malam seadanya dan siap2 untuk perjalanan malam, muncak ke Sindoro. Jam 20.00 kita kumpul brefing membagi 3 tim, awalnya Buyung di depan sebagai leader, saya mimpin rombongan tengah dan Mas Amin + Beben tim sapu ranjau di belakang, sekitar pukul 20.15an kita mulai pendakian sebelum sampai pos 1 formasi berubah, leadernya Mas Amin dan Buyung+Beben jadi tim sapu ranjau. Saya masih tetap ditengah. 

Tim 1 melaju lebih cepat Mas Amin, Erwin, Najib, Arif dan Sukma ditengah saya, Katon, Ayu, Farida, Aji dan Arif (nama Arif memang ada 2 jangan bingung). sementara dibelakang sisanya. Rombongan saya sempat ketemu tim 1 di Pos 2, tapi kemudian tim 1 jalan duluan. Saya masih menunggu tim 2 beristirahat, sambil smsan sama "Dek......" jam sudah menunjukkan pukul 22.30 hari mulai hujan, tim 2 segera mulai jalan, namun karena agak lambat dan memutuskan untuk berteduh akhire saya terpaksa meninggalkan tim 2, karena saya ga akan kuat kalau harus terlalu lama istirahat. 

Saya melaju cepat sampai pos 3 ditemani hujan dan sesekali sms masuk. O,ya saya sempat memberi ucapan selamat ulang tahun untuk Ibunya Raisa dan Najwa sekitar pukul 23.30 sebelum sinyal benar2 hilang. Sampai Pos 3 mas amin dan Tim 1 sedang memasang tenda, dan saya pun segera mencari tempat untuk pasang tenda. setelah dapat tempat saya minta bantuan mas Arif untuk pasang tenda, karena kalau pasang sendirian keburu tenda terisi air. Hujannya luar biasa tapi ga terlalu dingin. Kaos dan jaket basah terpaksa buka kaos dan jaket hanya pakai sarung. saya merasakan capek dan perut nyeri setelah terpasang tenda langsung mapan tidur, teman2 yang lain segera menyusul sampai pos 3. menurut info tim 3 paling terakhir sampai pos 3 jam 02.00 WIB. 


Sunrise dari Pos 3 Sindoro
Sunrise dari Pos 3 Sindoro

Pagi 18/1/2015 jam 05.00 pos 3 sudah ramai, teman2 sudah mulai mengganggu untuk membangunkan saya dan yg masih tertidur, saya segera bangun dan mencari kamera, sunrise mungkin cihuy, ternyata kabut sunrisenya lumayanlah daripada ga dapat. Beberapa teman mulai galau melanjutkan naik ke puncak atau kembali turun. Saya yang mendadak Sindoro dengan menahan asam lambung yg meninggi tidak punya target sampai puncak. Pos 3 itu sudah bonus. Cuaca yang mendung dan gerimis semakin menyiutkan nyali untuk muncak. 

Ternyata sekitar pukul 06.30 cuaca cerah, info yg kita dapat puncak tinggal 2jam, setelah sarapan roti tawar sepotong dan minum obat saya segera melanjutkan perjalanan ke puncak berbekal air mineral 600ml. Perjalanan ke Puncak dimulai, Sindoro itu unik karena banyak bukit PHP (Pemberi Harapan Palsu) ada 2 bukit dan saya termasuk terPHP. Sepertinya puncak tinggal satu bukit ternyata setelah sampai bukit masih ada bukit berikutnya dan dua kali merasakan perasaan yang sama. 


Pasukan Berani dingin takut lapar Pos 3 Sindoro

Mendaki ke puncak itu pasti berat jadi jalannya pake irama 10-1, sepuluh langka istirahat 1 menit jangan satu jam ya. hehehehe..... Saya, Najib, Edwin dan mas Amin sampai puncak pas jam 10.00 disambut bau belereng kawah Sindoro yang menyengat dan rasa lapar yang menyayat bekal logistik minim. Rasa ngantuk luar biasa memaksa saya sampai puncak untuk tidur, sekitar jam 10.30 teman2 membangunkan saya untuk mengajak turun, sebelum turun saya sempat poto2 dulu 9-10 jepretan. 



Foto sebelum tidur di Puncak Sindoro

Dan kamipun segera turun berharap rombongan kedua masih punya logistik, di atas pos 4 kami bertemu rombongan kedua Aji, Arif, Ayu, Beben, Farida, Awal yang mulai capek, yang lain ga ikut muncak cuma berhenti di pos 3, kami terus menyemangati mereka untuk sampai puncak. dan apesnya logistik mereka juga habis, berthanlah kami turun dengan rasa lapar. 


Puncak Gunung Sindoro, Tanpa Jaket cukup pake sarung, pake kaos oblong punya mas Arif

Puncak Sindoro

Sampai pos 3 tempat kami ngecamp jam 12.00 pas, segera masak Mie Instant dan sudah menunggu nasi yg telah matang. sehabis makan, obatpun sudah siap menghajar asam lambung. tapi entah apa masalahnya justru setelah minum obat rasa nyeri semakin ga karuan. saya memutuskan untuk tidur sebentar, sekiranya jam 14.00 saya bangun dan memaksa diri untuk turun karena ada janji ketemu "Dek......" membicarakan masa depan yang indah2. Saya turun ditemani Edwin karena buru2 kami turun lumayan cepat jam 15.30 sudah sampai di basecamp, sudah digoda tukang bakso, sambil makan bakso saya WAnan sama "Dek......" dan dia memberi kabar ga jadi ketemu malam itu karena pekerjaan masih banyak. Ya sudah yang penting dalam hidup itu apapun keadaan kita harus tetap berjuang. 

Entah sakit, sehat atau sekarat sekalipun kita harus tetap berjuang, Jangan pikirkan hasilnya yang penting terus berusaha dan berdoa. Percayalah selama Tuhan berkehendak tidak ada yg tidak mungkin. 

Sampai cerita ini diturunkan saya tidak lagi bertemu dengan "Dek......." pada 20/1/2015 kami bersepakat jalan sendiri-sendiri, orangtua "Dek......" melarang keras hubungan kami "mama papa larang". Patuhlah pada orangtua, buatlah ia bahagia dan bangga. Ya saya sadar, saya memang tak pantas untuknya. Mana ada orangtua yg rela anak prawannya dapat duda beranak 2. 

Aku bahagia melihatmu bahagia denganku atau tanpa aku :)

Mencintai memang tak harus memiliki, hari ini dan entah sampai kapan aku akan tetap mencintaimu. semoga engkau segera menemukan tambatan hati yg sesuai dengan keinginanmu dan orangtuamu. Sampaikan salam hormat saya untuk orangtuamu dan orang2 disekitarmu yang menentang kisah kita. 

Mengenalmu dan mencintamu adalah anugerah, jadi jangan paksa aku untuk melupakanmu. 

2 komentar:

  1. weeee Critanya Keren Mas Seru walau akhirnya Agax Melow dan Bikin Haru.. hehehe

    ya karna ini adalah muncak Perdana bagi saya. sampai D Pertengahan Jalan mau KO karna Leader regu 1 kayax Tupai manjatnya Cepet banget. dan nggak Pakek Mantel sampai POS 3 alhasil Kedinginan Beeerrr .. hehe gpp lah blom bisa sampai Puncak. Biar lebih sering ikut Muncak, jadi Ketagihan Muncak ni Critanya ..hehe dan Semoga Next TRIP SIap ikut K Gunung" Selanjutnya.. Tetap SemangART..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf 90% curhat dan ceritanya cuma 10% :)

      Hapus